Halaman

jika dengan bermimpi aku dapat bertemu kamu tolong jangan pernah bangunkan aku dari tidur yang panjang

Selasa, 28 Februari 2012

Beberapa Tahun Kemudian.


Kau sering melihat di berbagai novel atau film kata-kata seperti ini 3 bulan kemudian atau bahkan 2 tahun kemudian..

Kadang kalimat itu muncul ketika masalah terlihat rumit sekali setelah rentan waktu tersebut,  Mungkin setelah itu akan ada penyelesaian dalam alur novel tersebut.

Tidakkah kau bertanya mengapa penulis lebih memilih mempersingkat tulisannya seperti itu, tidakkah kau ingin tahu apa yang di lakukan tokoh utama selama rentan waktu tersebut.

Tapi sekarang aku tahu kenapa seorang penulis melakukan hal itu,

Ketika seseorang disakiti oleh cintanya saat itu sepertinya tak ada satu hal pun yang menarik untuk dia lakukan. Kau merasa kehidupanmu terlalu monoton, tak ada semangat, udara seperti tak berharga untuk dirimu, bahkan orang-orang yang mempedulikanmu lebih banyak kau abaikan mereka.

Tidakkah kau bosa jika membaca novel atau film yang bercerita seperti bangun tidur, mandi,sarapan, beraktifitas,menangis setiap malam sampai matamu bengkak, tidur lagi, bangun lagi dan begitu seterusnya..

Aku rasa itu hanya terjadi pada remaja :D:D

Kadang aku iri dengan tokoh-tokoh cerita itu, penulis dengan gampangnya menyebutkan beberapa tahun kemudian sehingga mereka tak perlu merasakan betapa tersiksanya selama bertahun-tahun itu.

Andai kehidupanku dapat ku percepat atau ke perlambat sendiri, sungguh hal yang sangat mustahil kulakukan.Penulis sesungguhnya kehidupan ini adalah Yang Maha Kuasa.Jika di novel atau film kita dapat melihat end nya bisa saja happy tapi juga bisa sadend. Tapi pada kehidupan nyata aku yakin Sang Penciptaku memberikan akhir yang selalu bahagia untuk setiap makhluknya.

Ada pepatah bodoh mengatakan jika nasi sudah menjadi bubur maka bubur itu tak dapat menjadi nasi lagi, yang perlu kita lakukan hanyalah bagaimana caranya agar bubur tersebut terasa lezat saat dinikmati, misalnya menambahkan kecap atau kerupuk.

Menurutku itu bukan pepatah bodoh,
Jika kau merasa di terpa bertubi-tubi masalah untuk apa berharap kembali ke masa lalu dan berharap memperbaiki kesalahan agar tak ada masalah yang muncul. Untuk apa kau habiskan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun hanya dengan berdiam diri dan panen air mata. Tidakkah kau merasa semuanya itu sia-sia.

Orang lain takkan bisa membantumu jika bukan kau sendiri yang mengkuatkan dirimu dan berusaha bangkit.
Buatlah bagaimana caranya hidupmu kembali berwarna, ambil kembali senyum yang sering kau tebarkan itu.
Dan yakinlah Allah sesalu bersama kita.

Senin, 27 Februari 2012

Ijinkan Aku Menunggumu


Bunga yang terpetik akan bersemi kembali ,  ku harap itu yang akan terjadi padaku nanti.
Aku..sosok yg sampai saat ini belum bisa melupakanmu.
Aku..sosok yg kehilangan cinta karena rasa dendam dan keegoisan yg teramat besar.
Ku harap suatu hari nanti aku dapat menebus kesalahan-kesalahan ku beberapa waktu lalu, ku harap aku dapat kembali seperti ketika pertamakali aku memeperlakukanmu.
Bukan kepuasaan yg ku dapat karena berhasil membuatmu merasakan sakitnya tapi aku malah terpuruk oleh sikafku sendiri, tanpa sengaja semua sikafku malah membuatku kehilangan cinta darimu.
Aku berharap suatu saat aku dapat bangkit kembali sepertimu yg mungkin saat ini sudah mendapatkan penggantiku.Ku harap kau bahagia di sana.
Tak ada sebersit dendam lagi di hatiku, bahkan untuk melampiaskan kekesalan agar kau juga merasakan hal yg sama, tak pernah lg ku rasakan semua itu.
Aku benar-benar merasa pasrah sekarang, aku tau kau tak memiliki rasa yg dulu pernah kau beri untukku lagi.
Tapi percayalah..aku selalu menunggumu dgn tulus di sini, benar-benar tulus tanpa ada dendam seperti kemaren.
Jika saja kau masih memberiku kesempatan untuk menemani hari-harimu aku tentu akan bersikaf seperti kau pertamakali mengenalku dulu.
Sayang aku terlambat menyadari semua ini, aku terlambat menyadari bahwa egoku lebih besar daripada cintaku.Aku terlambat menyadari bahwa dendam yg ada di hatiku suatu saat bisa menghancurkan diriku sendiri.
Aku selalu menunggumu..
Ku harap kau datang lagi padaku.
aku berbohong jika aku bahagia.kau harus tau semuanya..
Satu-satunya orang yg aku pikirkan hanya kamu, orang yg selalu menari-nari di otakku.Selalu hadir dalam pikiranku, selalu mengisi hariku meskipun sosokmu tak tersentuh.kau selalu hidup di hatiku , kata-kataku dari dulu sampai sekarang tak pernah bohong, janjiku bahwa kau akan selalu ada di hatiku tak pernah ku khianati.
Aku selalu menunggumu..selalu ada setiap kau butuhkan aku..
Kini aku belajar arti ketulusan yg sesungguhnya, aku tak ingin dendam dan ego menguasai hatiku lagi.
Yaa..aku mencintaimu meski kau tak bersamaku lagi, meski kau melupakanku, meski kau bersama wanita lain.
Aku tetap setia untukmu, menunggumu..
Jika kau sedih sepi temuilah aku, itu bisa membuatku merasa aku masih berharga di dunia ini.Itu bisa membuatku merasa kau masih membutuhkan aku.
Percayalah..aku belajar ketulusan ini darimu
Jika kau membutukan teman sekedar menemani harimu yg monoton, datanglah padaku..aku dan senyumku akan selalu ada untukmu.
Aku tulus melalakukan ini, aku selalu menunggumu.
Selalu menunggu sms darimu..
Sejak aku mengenalmu hingga saat ini aku tak pernah bisa mencari penggantimu, bohong jika aku berkata aku mencintai orang lain..
Aku tak pernah bisa, aku tak mau menyakiti hati pria-pria itu, cukup aku yg merasakan ini. Meskipun aku tak tau apa kau akan kembali lagi, aku tetap setia di sini..
Aku merindukanmu..

Takdir Cinta, Bukan Ku yang Mau


Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

***

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita...

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia...

Pernikahan kami sederhana namun meriah...

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu...

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci...

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.


***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.

Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.

”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

***

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..

Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

***

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.

“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

***

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.

Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“

MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.

”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“

Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

***

Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***

Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”

“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

=====================================================

<img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs462.ash1/25389_1105933704700_1717523000_200559_1115491_n.jpg" border="0" class="linked-image" />

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.

Aku sangat marah..

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan
ibunya..

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..

Engkau Maha Adil..

Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri.

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.

Ayah.. aku kangen ayah..

=====================================================

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..

Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.

Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?

Tunggulah Ayah disana Bunda..

Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..

***

Kulit Apel


“khila !!!” suara mama ku terdengar keras sekali,
“dari tadi mama lihat kamu tak henti-hentinya bolak balik sana sini seperti setrika” kata mamaku lagi
 “aduh ma ini sudah sore tapi naufal belum sampai juga aku khawatir terjadi sesuatu padanya” sahutku.
Entah sejak kapan mama memperhatikan tingkah ku ini.Aku memang sedang menunggu sesorang,seseorang yang sangat special di hatiku.Aku cemas karena handphone nya tidak aktif,seharusnya dia sudah sampai sejak tadi.Tentu saja aku begitu khawatir takut terjadi sesuatu padanya.
Ting tong..ting tong..tak lama kemudian bel rumah ku berbunyi dua kali aku segera berlari ke depan dan membuka pintu.Kegelisahanku yang sedari tadi kini lenyap ketika melihat wajahnya.Bagaimana tidak,sudah hampir dua bulan kami tidak bertemu semenjak naufal memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar kota.Awalnya aku keberatan tapi tak ada gunanya melarang dia toh dia tetap pergi untuk mengejar cita-citanya.Dan setiap satu bulan sekali dia menyempatkan diri datang ke Banjarmasin untuk menemuiku dan keluarganya.Kadang kalau ada kesempatan aku juga sering datang menemuinya ke Samarinda sekalian mampir ke rumah saudaraku yang ada di sana.
Dia pernah bilang kepadaku “aku akan datang kepadamu saat aku benar-benar menjadi sesorang yang hebat “ begitulah kata-katanya setahun silam.
Saat itu aku bahkan seperti anak ayam yang tak ingin pisah dari induknya,maklum kami sudah menjalin hubungan selama 5 tahun sejak aku duduk di bangku SMA.Walaupun umur ku lebih tua 2 tahun dari dia tapi kami tak mempermasalahkan hal tersebut,bahkan terkadang dia bisa lebih dewasa di banding aku.
 ”Mimi i love you” suaranya membuyarkan lamunanku.
” love you to pipi” aku membalasnya kemudian mencium kedua pipinya.
 ”ayo masuk pi dari tadi aku sudah menunggumu sampai lumutan” kataku padanya.
 “iya iya ma’af mi tadi pipi terjebak macet” katanya.
Mimi dan pipi itulah panggilan sayang bagi kami berdua,aku tak suka dengan kata sayang,cinta,beby,honey atau apalah semacamnya menurutku itu terlalu berlebihan.
“senyum dong mi jangan cemberut gitu,jelek mi” aku pun terpaksa senyum
“nah gitu dong kan cantik banget” katanya memujiku sambil mengacak-acak rambutku.
Mendengar kata-katanya aku hanya bisa cengengesan.Dia paling pintar dalam urusan merayuku.
Kami berdua duduk di sofa ruang tamu rumah ku.Akhirnya aku bisa menatapnya lagi.
“Bagaimana kuliahnya? Jangan bilang kalau kamu masih sering bolos seperti dulu” tanyaku pada naufal
 “aduh mimi masa sampai sekarang aku masih di samakan seperti dulu sih,itu zaman SMA dulu mi sekarang aku tak mau seperti itu lagi.Aku berusaha belajar sungguh-sungguh,coba tebak nilai ujianku semester ini” katanya padaku.
”ehmmm...mungkin C ??”jawabku asal
“salah !!” sahutnya
“B ????” aku mencoba menebak lagi
 “salah lagi weeee,yang benar B+” katanya sambil tertawa.
Aku jadi kesal sendiri dia selalu mempermasalhkan hal-hal sepele seperti itu,contohnya seperti tadi apa susahnya sih tinggal tinggal tambahkan + toh tebakanku tidak salah.Pernah kami bertengkar sampai Tante Ana tertawa cekikikan melihat ulah kami,waktu itu weekend dan kami pergi ke tempat Tante Ana adik ayahnya naufal.Sampai di sana Tante Ana menawari kami buah apel,masalahnya sepele cuma gara-gara aku tidak mengupas kulit apel itu.Naufal bersikeras kalau kulit apel itu harus di kupas karena kulit itu harus di buang yang di makan hanya dalamnya saja.Tentu saja aku tidak mau,aku pernah dengar kalau kulit apel itu juga bergizi jadi sebaiknya memakan apel dengan kulitnya biar tidak mengurangi vitaminnya.Tapi dia tetap bersikeras pokoknya tidak mau.
”dasar anak kecil kamu itu tidak pernah mau mendengarkan kata-kata ku!!” kataku kesal.
“memang aku masih kecil,daripada kamu udah tua asal bicara”
 Tentu saja aku marah dengan kata-katanya seperti itu.Bayangkan saja gara-gara kulit apel apel kami jadi bertengkar dan dia mengancam ku tidak akan mengantar pulang kalau kulit apel itu tidak di kupas.Masa iya sih hanya gara-gara itu,menurutku pikirannya memang terlalu kekanak-kanakan dan sifat egoisnya itu saangat berlebihan.Aku selalu di bilang salah dan dia selalu benar kalau sudah begitu biasanya aku yang ngambek.Tapi kami tak pernah bertengkar lama-lama paling hari itu juga baikan lagi,biasanya dia minta maaf kepadaku dan menyogokku dengan es krim supaya aku mau memafkannya.Dia tahu benar kalau aku menyukai es krim.Aku rasa itu saat-saat paling romantis,setelah bertengkar dan baikan menurutku hubungan kami jadi bertambah segar karena serasa seperti baru jadian dulu.Pertengkaran itu aku anggap hanya sebagai bumbu-bumbu dalam perjalan cinta kami alhamdulillah sejauh ini kami masih bisa melalui itu semua.
“mi..pipi boleh tanya sesuatu?” wajah naufal terlihat serius tidak seperti biasanya,
“tanya apa pi?” kataku penasaran.
Naufal memegang tanganku dan menatap mataku saat itu pandangan kami saling beradu.Ada suatu kesejukkan saat aku memandang matanya.Mata yang membuat aku jatuh cinta,mata yang begitu lembut, mata yang memancarkan cinta yang selama ini membuat hari-hariku bahagia,mata yang bisa membuatku tersenyum,mata yang bisa membuatku menangis.
“mimi benar-benar tulus mencintai pipi?” pertanyaan itu membuatku terkejut.Bisa-bisanya Naufal bertanya seperti itu apa dia belum percaya denganku selama ini atau mungkin dia menaruh curiga padaku.Pikiranku mulai tidak karuan.Tangan Naufal makin erat memegang tangan ku,tangan itu begitu dingin matanya yang tadi bercahaya kini ku lihat semakin sayu.
“pipi nanya apa sih..tentu saja mimi benar-benar tulus.Mimi yakin pipi adalah orang yang terbaik untuk mimi.Semenjak bersama pipi,mimi merasa bahagia pipi dapat mengubah air mata mimi menjadi sebuah senyuman.Pipi begitu berharga di hidup mimi saat ini dan sampai kapanpun” kataku padanya.Seketika aku melihat dia tersenyum mendengar kata-kata ku demikian.
“pipi tahu mimi akan mengatakan itu,pipi hanya takut cinta yang dulu bersemi mulai pudar di hati mimi” katanya pelan,
“maaf kalau selama ini pipi sering membuat mimi kesal,maaf kalau selama ini pipi sering membuat mimi menangis.Pipi benar-benar menyesal,maaf kalau kemaren pipi bersikeras untuk kuliah di luar kota.Pipi sudah membuat mimi sedih dengan keputusan itu,gara-gara pipi kita makin jarang bertemu.Mimi tahu,pipi bahkan lebih menderita daripada mimi tiap malam pipi selalu merindukan mimi”
kata-kata itu membuat aku terpana,aku tak menyangka Naufal yang ku kenal selama ini mampu berkata demikian.Aku memeluknya erat,
“tidak apa-apa pi,mimi mengerti” aku tak dapat berkata apa-apa lagi.
Willy mengeluarkan sesuatu dari saku celananya,sebuah kotak kecil berwarna pink.Dia membuka kotak itu dan menunjukkannya padaku.Aku begitu terkejut melihat isinya.Sebuah liontin berbentuk hati,liontin itu bisa di buka di dalamnya terukir nama kami berdua,Naufal Khila
“mimi suka?” tanyanya padaku.
“tentu saja” jawabku.
Dia mengambil liontin itu dan memakaikannya di leherku.Sungguh indah liontin itu.Aku sangat bersyukur memiliki kekasih seperti Naufal.
“pipi memesan liontin ini di tempat teman pipi.Sebenarnya pipi mau memberikan ini saat ulang tahun mimi nanti,tapi rencana itu pipi batalkan.Pipi menyuruh teman pipi untuk cepat-cepat membuatkan ini.Pipi takut tak akan pernah bisa memberikannya lagi nanti” katanya serius.
“makasih pi,mimi senang liontin ini sangat bagus mimi akan menyimpannya baik-baik” kataku lagi.
“pipi harap mimi tidak akan pernah melupakan pipi apa pun yang akan terjadi nanti” katanya padaku.
Aku merasa hari ini Naufal begitu aneh lain dari biasanya,apa mungkin ini hanya perasaan ku saja.Entahlah aku tak tahu pasti yang jelas hari ini aku begitu bahagia.Bagaimana bisa aku melupakan ini semua apalagi melupakan Naufal,dia begitu sempurna di mataku.Dia sudah menjadi darah di tubuhku,hatiku sudah terkunci dan hanya dia yang tinggal di sana.
Aku jadi teringat dulu waktu bulan pertama kami pacaran,awalnya aku hanya ingin main-main tapi entah kenapa lama-kelamaan aku benar-benar jatuh cinta padanya dan tak bisa berpisah walau sedetikpun.Semenjak itu aku yakin bahwa dia adalah cinta sejatiku.Aku yakin dia juga merasakan hal yang sama denganku.Kami saling percaya mungkin itulah yang menyebabkan hubungan kami bisa awet.Kami bahkan pernah memenangkan lomba ‘best couple’ di acara valentine kampus ku tahun lalu.Kata teman-temanku kami adalah pasangan yang sangat cocok,tak heran saat kami bertengkar dan hampir putus banyak yang menyayangkan hal itu.Tapi toh kami tak pernah benar-benar putus,karena kami memang sadar bahwa kami membutuhkan satu sama lainnya dan kami tidak bisa terpisahkan.
“tunggu sebentar pi,ada yang mau ku ambil” aku langsung pergi ke kamar dan mengambil sesuatu.Tidak lama kemudian aku kembali lagi ke ruang tamu.
“pipi ingat ini?” tanyaku padanya
Naufal terkejut saat aku memegang benda itu.Dulu saat sweet seventeennya mantan Naufal yang bernama Karina memberikan sebuah jam tangan,entah kenapa sejak mendapat hadiah itu Naufal selalu memakainya.Awalnya aku tidak apa-apa mungkin karena dia ingin menghargai pemberian orang lain.Tapi lama-lama kau cemburu,maklum namanya juga pacar bagaimana tidak cemburu kalau kekasihnya selalu memakai hadiah yang diberikan mantan pacarnya.Gara-gara itu kami bertengkar,saat itu malam minggu dan kami jalan ke sebuah mall.Lagi-lagi dia memakai jam tangan itu,aku jadi ngambek dan bersikeras ingin pulang kalau dia tidak mau melepas jam tangan itu.Kalau di ingat-ingat saat itu memalukan sekali,setiap orang yang lewat dekat kami memperhatikan kami yang sedang bertengkar.Dia tetap tak mau melepaskannya alasannnya dia suka sekali dengan model itu.Aku benar-benar kesal dan pergi,dia menarik tangan ku tapi aku tepiskan beberapa kali hingga akhirnya dia mengalah dan melepaskan jam tangan itu.
“nih..mimi puas!!!???” aku tercekat mendengarnya,dia melempar jam itu ke lantai keras sekali hingga semua perhatian orang-orang tertuju pada kami.Jam itu pun pecah,aku tak berani berani lagi berkata apa-apa dia begitu marah.
“ayo pulang” katanya lagi,aku hanya diam saat dia menarik tangan ku hingga ke parkiran.Sepanjang perjalanan kami tak bicara apa-apa.Kami diam seribu bahasa,sungguh tersiksa malam itu.Beberapa lama kemudian akhirnya kami sampai di depan rumahku.
“makasih,maaf yang tadi” hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku,aku kemudian membuka pintu mobil dan ingin turun tapi tanganya cepat menangkapku.Dia memelukku.
“pipi yang harusnya minta maaf,pipi sama sekali tidak mengerti perassan mimi.Pipi begitu egois,sungguh jam tangan itu tidak berarti apa-apa untuk pipi” katanya lirih.
Air mataku jatuh begitu saja tanpa dapat ku bendung lagi,aku tidak tahu kenapa aku menangis mungkin begitulah wanita.Perasaan ku benar-benar campur aduk saat itu.
“mi...pipi minta maaf,pipi tidak mau melihat mimi menangis,pipi menyesal mi” katanya lagi.
“tidak apa-apa pi,mimi yang seharusnya minta maaf,mimi terlalu cemburu ini semua gara-gara mimi” aku berkata sambil menangis.
Naufal nampak begitu terkejut ”apa ini mi??” ucapannya itu membuyarkan lamunanku.
            Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kejadian itu,bahkan sampai sekarang aku masih menyesal.Hingga aku berinisiatif untuk mengganti jam tangan tersebut.Aku bahkan mengganti jam tangan itu sama persis.
“maaf kejadian waktu itu pi,ini mimi ganti jam tangan pipi yang pecah itu” kataku padanya.
Naufal mengambil jam itu dan memakainya.
“makasih mi,pipi suka” katanya.
“sekarang mimi tidak marah lagi kan kalau pipi memakai jam tangan” ketanya usil.
“ya iya lah,awas saja kalu jam tangan ini pipi lempar lagi” kataku mengancam.
Kami pun tertawa bersama-sama.Tak terasa hari sudah malam,kami memang tak pernah ingat waktu kalau sudah bicara berdua.Satu jam terasa seperti satu detik,bahkan kalau bisa aku ingin satu hari saat aku bersama Naufal di ganti menjadi seratus jam.
“mi..udah malam,pipi pulang dulu ya” katanya padaku.
Aku paling benci saat-saat seperti ini.Baru sebentar aku bertemu dengannya, baru sebentar aku memandang wajahnya, mendengar suaranya, menyentuh tangannya, dia sudah mau pulang.Waktu benar-benar begitu cepat tidak seperti saat pelajaran fisika di SMA dulu,satu jam serasa seribu tahun.Andai hal itu berlaku saat aku bersama bersama naufal.
Setelah Naufal berpamitan dengan mama aku mengantarnya ke depan.
“ingat mi..jaga liontin itu baik-baik dan jangan pernah lupakan pipi apapun yang akan terjadi nanti” katanya padaku,
setelah itu dia mencium keningku.Sesaat aku diam terpaku,darah di tubuhku seakan berhenti mengalir,jantungku seakan berhenti berdetak untuk sepersekian detik.Ku rasakan kecupannya yang begitu mesra,yang mampu membuat ku melayang.Tapi entah mengapa aku seperti mersakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa ini.Sedari tadi aku berusaha menepis perasaan aneh ini.Aku yakin semua ini akan baik-baik saja.
“pipi pergi dulu mi,ingat jaga diri mimi baik-baik” kata-kata itu seakan terasa aneh di telingaku.Memangnya Naufal mau ke mana toh dia liburan di sini selama 2 minggu dan itu berarti kami bisa menghabiskan waktu bersama-sama selama dua minggu lagi.
“iya pi,hati-hati di jalan.Jangan ngebut !” kataku lagi aku mencium kedua pipinya.
“love you mimi” katanya sambil menyentuh pipiku,tangan itu bahkan lebih dingin dari tadi.
“love you to pipi” balasku.
Dia berjalan menuju jazz abu-abu kesayangannya,DA 4695 NW.Mobil itu dia beli atas kerja kerasnya sendiri dan plat mobil itu menunjukkan tanggal lahir dia sendiri.Aku sanggat bangga padanya,walaupun notabene orang tuanya kaya tetapi dia tidak mau sepenuhnya mengandalkan uang dari papanya.Dia lebih memilih untuk bekerja sampingan di sebuah bengkel khusus modifikasi,itu pun karena hobinya sejak SMP yang memang suka memodifikasi motor.Sekarang dia bahkan sudah mendirikan bengkel sendiri.Aku terus memandanginya mataku tak bisa lepas dari dia sampai akhirnya mobil itu menghilang di tikungan.Aku masih terpaku di depan rumah,perasaan aneh yang tadi muncul kini menyerang lagi.Aku berusaha menepis ini semua.Aku masuk ke dalam rumah.



Ku pandangi liontin yang ada di leherku,bentuknya begitu indah.Aku tak menyangka ternyata Naufal bisa berpikir untuk membuat ini untukku.Aku merasa sangat tersanjung.Ku rebahkan diriku di tempat tidur,aku ingin hari esok segera datang.Aku ingin bertemu dengan Naufal lagi,segudang daftar kegiatan yang akan ku lakukan bersamnya di liburan kali ini sudah menunggu kami.
“Khila !!!” beberapa saat kemudian terdengar teriakan mama dari luar.
“Khila ayo ke sini ada teman kamu!!!” kali ini teriakan itu lebih keras lagi.
“iya ma...sebentar” aku beranjak dari tempat tidur.Siapa sih malam-malam seperti ini mencariku kurang kerjaan banget gak tahu apa aku lagi asyik-asyiknya menghayal untuk besok.Aku sedikit menggerutu dalam hati,dengan terpaksa aku berjalan ke depan berharap bukan Tita, teman ku yang hobi meminjam tugasku dan menyalinnya.
            Aku terkejut sekali saat tahu bahwa Reza yang datang menemuiku.Reza adalah teman Naufal sekaligus mantan ku.Kami pernah menjalin hubungan sekitar 3 bulan namun setelah itu putus karena tidak ada lagi kecocokan di antara kami.Namun semenjak putus kami tetap menjalin hubungan baik,bahkan sampai sekarang kami masih bersahabat.
“Reza..ada apa malam-malam begini??” tanyaku padanya
Tidak biasanya Reza datang ke rumahku secara tiba-tiba,biasanya dia menelpon ku terlebih dulu atau paling tidak mengirim sms.Wajah Reza terlihat murung,dia tak seperti biasanya saat bertemu aku.Reza yang ceria dan penuh semangat.Mungkin dia sedang ada masalah atau apa aku tak tahu.
“Aduh di..baru saja Naufal pulang.Coba kamu ke sini tadi sore” kataku lagi.
Mendengar kata-kataku Reza terkejut.
“Kamu bicara apa la? Aku ke sini untuk mengabari kamu kalau tadi siang Naufal kecelakaan dan meninggal di tempat.Sekarang jenazahnya masih dalam perjalanan menuju Banjarmasin”
            Oh Tuhan..apa yang Reza katakan barusan,lalu siapa yang datang ke rumahku sore tadi ? Ku harap telingaku ini salah dengar atau mulut Reza yang salah mengucapkan kalimat-kalimat itu.Kata-kata Reza barusan bagai petir di siang bolong.Ku mohon ulangi sekali lagi kalimat itu,ulangi,ulangi ku mohon.Batin ku terus bergejolak,Ini tak mungkin terjadi,ini tidak boleh terjadi pada Naufal.Tuhan apa ini,cobaan macam apa yang kau berikan padaku.Apa Dosa yang telah ku perbuat hingga begitu sulit ku terima semua ini.Tubuhku  lemah,kepalaku terasa sangat berat,jari-jari ku seakan membeku,mulutku diam membisu,hanya air mata ini yang terus menetes tanpa henti.Aku sudah tak tahan lagi,aku benar-benar tak mampu lagi.Ku biarkan tubuh ini meyentuh lantai,ada semcam suara teriakan entah itu suara siapa aku terlalu lelah untuk berpikir terlalu lelah untuk berdiri.Kemudian semuanya menjadi gelap.